Pages

Kamis, 04 Oktober 2012

ANDAI JAMAN NABI SUDAH ADA TELEVISI


Demi Allah, kita tidak akan kembali sehingga kita sampai Badar, dan kita dirikan kemah selama 3 malam, kita akan potong unta, kita akan makan-makan dan minum khamr sedang para biduan bernyanyi di hadapan kita, sehingga semua orang Arab mendengar tentang kita dan keberadaan kita lalu mereka senantiasa takut terhadap kita”

Semua pakar sirah nabawiyyah mengatakan bahwa ungkapan Abu Jahal di atas adalah ungkapan penuh sombong dan kepongahan. Keinginannya hanya satu, terus berperang agar dapat membinasakan Nabi Muhammad dan para pengikutnya, terlebih rasa malunya yang luar biasa akibat lolosnya Nabi dari kepungan para pemuda bayaran saat ingin membunuhnya sebelum berangkat ke Madinah.


Namun ada potongan kalimat Abu Jahal yang sangat menunjukkan kesombongannya saat ia mengatakan :

“sehingga semua orang Arab mendengar tentang kita dan keberadaan kita lalu mereka senantiasa takut terhadap kita”.

Sebuah ungkapan yang penuh dengan keinginan mengalahkan musuh-musuhnya, ya, itulah ungkapan perang urat syaraf, perang yang sesungguhnya belum dimulai, tapi mengalahkannya harus sudah dimulai.

Dan begitulah sifat media, keberadaannya jauh lebih ampuh dari semua jenis senjata mematikan yang ada saat ini. Daya jelajahnya mampu menembus semua benua yang ada di dunia. Untuk menghancurkan sebuah keluarga tak perlu menyuruh orang bayaran untuk mendatangi rumahnya. Untuk merusak tatanan masyarakat tak perlu mengirim pasukan. Untuk memporakporandakan bangunan negara tak perlu membuat perang dunia ke tiga.
Semuanya cukup dengan sebuah senjata saja, media. Dan Abu Jahal sudah sangat faham dengan hal itu, maka ia gunakan suaranya untuk memberi informasi penting ke seluruh Arab, bahwa ia ada, dan akan terus ada dengan segala kekuatannya.

Abu Jahal adalah tokoh penting orang-orang kafir Quraisy, ia orang berada, telah mewarisi seluruh kehormatan dari keluarganya yang terpandang. Karena itulah ia menjadi tokoh sentral, lidah dan pandangannya tajam, segala yang diucapankannya selalu tampak jelas, meski dalam hal keburukan, karena ia orang kafir.

Dalam sejarah permulaan dakwah Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal adalah orang yang selalu menampilkan permusuhannya terhadap Nabi, tidak hanya menyakiti beliau dan orang-orang yang masuk Islam secara langsung, tapi ia juga selalu menghalangi orang-orang agar tidak mengikuti ajakan Nabi, sebagaimana yang ditulis oleh Ibnu Hisyam dalam sirahnya bersumber dari hadits Imam Bukhari bahwa saat Abu Thalib menghadapi kematiannya, datanglah Nabi Muhammad SAW sedang di hadapan Abu Thalib telah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al Mughirah, lalu Nabi berkata kepada Abu Thalib :

“Wahai Paman, ucapkalah La Ilaha Illallah, kalimat dimana Aku akan bersaksi untukmu nanti di hadapan Allah”,

Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al Mughirah pun langsung berkata :

“Apa kamu membenci agama Abdul Muththalib?”,

begitulah seterusnya sampai akhirnya Abu Thalib berkata :

“(Aku) Dalam agama Abdul Muththalib”,

ia menolak mengucapkan La Ilaha Illallah.

Sungguh sejarah akan terus berulang, dengan tokoh dan tempat yang pasti akan selalu berbeda, namun mempunyai hakikat yang selalu sama. Sejarah kebengisan Fir’aun akan terus terulang, sejarah Namrud akan terus terulang, sejarah Qarun dan keluarganya akan terus terulang, begitu juga dengan sejarah kebinasaan umat-umat terdahulu, seperti kaum Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth, kaum Nabi Nuh dan seterusnya juga akan terus terulang, tentu dengan nuansa yang berbeda, namun hakikat dari sebab-sebab kebinasaannya akan selalu sama, yaitu pembangkangan terhadap Allah SWT.

Kalau kita cermati sejenak, setiap bencana yang terjadi pada umat-umat terdahulu selalu ada kaitannya dengan pembangkangan terhadap perintah Allah, namun yang sungguh sangat menarik untuk diperhatikan adalah, setiap pembangkangan yang kemudian tergambar dalam kerusakan akhlak dalam beragama, bersosial, berekonomi, berpolitik dan bernegara adalah tokoh-tokoh yang berada di belakangnya, ada aktornya, ada motivatornya, ada konfiguratornya, ada inisiatornya, ada eksekutornya, dan yang paling utama adalah keberadaan sang donaturnya.

Sinyal Al Qur’an mengenai tokoh-tokoh di belakang kerusakan bisa dilihat dalam ayat 16 surat Al Isra yang artinya :

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Dan ayat 123 surat Al An’am :

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu”.

Dalam ayat 16 surat Al Isra, ada 3 hal penting yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Pertama.

Arti kata “amarna”.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna “perintah” kepada “mutrafiin” untuk berbuat kerusakan adalah menjadikan mereka memiliki kemampuan untuk berbuat kerusakan, karena tidak mungkin Allah memerintahkan berbuat kerusakan kepada mereka, Abdullah bin Abbas pun menegaskan ini sebagaimana dinukil oleh Imam At Thabari dalam tafsirnya, hal ini juga dikatakan oleh Abu Utsman Al Hindi, Abu Raja’, Abul Aliyah, Ar Rabi’, Mujahid dan Hasan Al Bashri seperti dikutip oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya.

Sedang makna kedua adalah mereka diperintahkan agar taat kepada Allah namun mereka justru berbuat kerusakan, sebagaimana Abdullah bin Abbas, Said bin Jubair juga mengatakan ini.

Ada juga dari kalangan ahli tafsir seperti Qatadah, Hasan Al Bashri, Abu Haiwah As Syami, Ya’kub, Kharijah, Ad Dhahhak, Ibnu Zaid, Ikrimah, Malik bin Zuhri termasuk juga Abdullah bin Abbas yang mengatakan arti “amarna” adalah “kami perbanyak”, sehingga artinya adalah “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami akan memperbanyak orang-orang yang berkelimpahan harta”.

Arti berikutnya adalah “menjadikan orang-orang yang berkelimpahan harta itu sebagai pemimpin negeri”, sebagaimana dikatakan dalam bahasa Arab, yang berpendapat ini adalah Abu Utsman Al Hindi, Ibnu Aziz dan juga dari kalangan Ahlut Ta’wil.

Kesimpulan dari makna-makna yang dikatakan oleh para ahli tafsir adalah, bahwa Allah SWT akan memerintahkan orang-orang yang berkelimpahan harta itu agar taat kepada Allah namun mereka berbuat fasik, memperbanyak jumlah mereka, menjadikan mereka pemimpin-pemimpin negeri, memberikan kemampuan kepada mereka untuk berbuat kerusakan di negeri mereka.

Kedua.

Arti kata “Mutrafiin”

Imam At Thabari mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas mengartikan sebagai “Asyraar” dimana dalam bahasa kita bisa berarti penjahat, preman, maling, perampok, penipu, pembunuh dan seterusnya.
Sedang Abul Aliyah mengatakan sebagai “mustakbiriin” yaitu orang-orang yang sombong, pongah dsb.
Hasan Al Bashri mengatakan sebagai “fasaqah” yaitu orang-orang yang berbuat fasik (kerusakan). Imam Fakhruddin Ar Razi dan Imam As Syaukani juga mengatakan ini dalam tafsir mereka dari Al Wahidy.
Ad Dhahhak mengatakan sebagai “kubaraa” yaitu para pemimpin.
Qatadah mengatakan sebagai “jababirah” yaitu pemimpin-pemimpin bengis dan diktator.

Kesimpulan dari para Ahli Tafsir, bahwa kata “mutrafiin” adalah orang-orang yang berbuat kerusakan dari kalangan orang-orang yang berkelimpahan uang yang mencakup para pemimpin, pengusaha, penjahat dan seterusnya.

Sayyid Quthub dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an mengatakan :

“Ayat 16 pada surat Al Isra menegaskan bahwa, keberadaan orang-orang yang berkelimpahan harta (mutrafiin) adalah tanda bahwa umat sedang mengalami kerusakan”.

Ketiga.

Arti kata “fafasaqu”, berasal dari kata “fisq”.

Dalam kamus Al Mu’jamul Wasith dijelaskan bahwa secara bahasa arti “fasaqa” adalah :

“Keluar dari sesuatu”

Misalnya : “bermaksiat dan melampaui batasan-batasan syari’at”

Imam Ibnu Athiyyah dalam tafsir Al Muharrirul Wajiz mengatakan :

“Keluar dari ketaatan kepada Allah”

Dengan demikian maka setiap orang yang tidak taat kepada Allah dan keluar dari batasan-batasan syari’at, baik dilakukan oleh orang kafir maupun orang mukmin maka dia disebut sebagai orang “fasiq” yaitu orang yang berbuat fasik.

Ulama membagi “fisq” menjadi dua :

Fisq yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keimanan.
Fisq yang tidak mengeluarkan pelakunya dari keimanan.

Adapun “fisq” yang tidak mengeluarkan pelakunya dari keimanan maka ada dua :

1. Fisq dalam perkara keyakinan.
Imam Ibnu Qoyyim mencontohkan dalam Kitab Madarijus Salikin sebagai “orang yang melakukan bid’ah” (1/362), meskipun “fisq” sendiri lebih umum dari bid’ah sebagaimana ungkapan Ibnu Sholah dalam Fatawa Ibnu Sholah :

“Semua pelaku bid’ah adalah orang fasik namun tidak semua orang fasik adalah pelaku bid’ah” (hal.28)

2. Fisq dalam perkara perbuatan.
Imam An Nawawi dalam Fatawa An Nawawi menjelaskan hal ini dengan ungkapan :
“Adapun perbuatan fasik maka dihasilkan dari melakukan dosa besar atau terus-menerus dalam melakukan dosa-dosa kecil (261).

Kesimpulan dari penjelasan para Ulama tentang arti “fisq” adalah semua bentuk perbuatan maksiat kepada Allah dan berakibat pada kerusakan syari’at NYA...

BOROBUDUR, SAAT PERTAMA KALI DITEMUKAN

Add caption

Candi borobudur terkubur lahar merapi
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa ahli mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi.

Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.

Sejarah ditemukannya candi borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur.

Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu.

Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

7 AHLI MATEMATIKA


1. Thales (624-550 SM)

Matematikawan pertama yang merumuskan teorema atau proposisi, tradisi ini menjadi lebih jelas setelah dijabarkan oleh Euclid.

2. Pythagoras (582-496 SM)

mencetuskan aksioma-aksioma, postulat-postulat yang perlu dijabarkan terlebih dahulu dalam mengembangkan geometri.
Bukan orang yang menemukan suatu teorema Pythagoras namun dia berhasil membuat pembuktian matematis. Pythagoras menemukan sebagai bilangan irrasional.

3. Socrates (427-347 SM)
filosofi besar dari Yunani. Pencipta ajaran serba cita, karena itu filosofinya dinamakan idealisme. Ajarannya lahir karena pergaulannya dengan kaum sofis. Plato merupakan ahli pikir pertama yang menerima paham adanya alam bukan benda.

4. Ecluides (325-265 SM)
Mungkin namanya kurang dikenal, tapi beliau disebut sebagai “Bapak Geometri” gan karena menemukan teori bilangan dan geometri. Subyek-subyek yang dibahas adalah bentuk-bentuk, teorema Pythagoras, persamaan dalam aljabar, lingkaran, tangen,geometri ruang, teori proporsi dan lain-lain. Alat-alat temuan Eukluides antara lain mistar dan jangka yang agan2 pake sekarang di sekolah

5. Archimedes (287-212 SM)
Agan2 yg pernah belajar fisika pasti tau nih org. Dia mengaplikasikan prinsip fisika dan matematika. Dan juga menemukan perhitungan π (pi) dalam menghitung luas lingkaran. Ia adalah ahli matematika terbesar sepanjang zaman dan di zaman kuno. Tiga karya Archimedes membahas geometri bidang datar, yaitu pengukuran lingkaran, kuadratur dari parabola dan spiral.

6. Appolonius (262-190 SM)
Kurang begitu terkenal juga. Tapi konsepnya mengenai parabola, hiperbola, dan elips banyak memberi sumbangan bagi astronomi modern. Ia merupakan seorang matematikawan yang ahli dalam geometri. Teorema Appolonius menghubungkan beberapa unsur dalam segitiga.

7. Diophantus (250-200 SM)
Ia merupakan “Bapak Aljabar” bagi Babilonia yang mengembangkan konsep-konsep aljabar Babilonia. Karya besar Diophantus berupa buku aritmatika, buku karangan pertama tentang sistem aljabar. Bagian yang terpelihara dari aritmatika Diophantus berisi pemecahan kira-kira 130 soal yang menghasilkan persamaan-persamaan tingkat pertama

OLIVIA MANNING, BOCAH GENIUS


organisasi eksklusif untuk orang-orang berotak encer dengan skor kecerdasasan atau IQ tinggi, punya anggota baru. Seorang siswi berusia 12 tahun yang diketahui punya tingkat kecerdasan di atas rata-rata bahkan di atas dua ilmuwan besar dunia, Albert Einstein dan Stephen Hawking.

Olivia Manning, nama siswi dari Liverpool, Inggris itu memiliki skor IQ (intelegent quotient) 162, jauh melampaui rata-rata manusia normal, yang ada pada skor 100.

Skor kecerdasannya tak hanya dua poin lebih baik dari fisikawan jenius Jerman, Einstein dan Professor Stephen Hawking, sekaligus menempatkannya di kelompok satu persen teratas orang-orang paling cerdas di muka bumi.

Dengan status kehormatannya di Mensa, itu berarti ia bergabung dengan jaringan orang-orang berotak cerdas dunia. Kejeniusannya juga membuat Olivia setara selebritis di sekolahnya, North Liverpool Academy di Everton.

"Banyak yang menghampiriku untuk minta bantuan soal pelajaran sekolah atau ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Tak masalah, aku suka tantangan dan membuat otakku selalu bekerja," kata dia seperti dimuat Daily Mail.

Olivia yang tinggal di perumahan Norris Green mengaku sejak lama menyadari bakatnya untuk menyerap dan mengingat informasi baru. Ia tak membutuhkan skrip saat pentas, dan menghapal dialog Macbeth karya William Shakespeare kurang dari 24 jam.

Namun, ketika ia mengetahui skor IQ-nya yang tinggi, gadis berambut panjang itu kaget, tak menyangka.

Selain sibuk mengerjakan PR, Olivia juga menjadi anggota klub Mensa di sekolahnya yang tiap selesai pelajaran berkumpul untuk memecahkan sebuah masalah.

Guru sekaligus pembimbing klubnya, Stacey Meighen dengan nada bercanda mengatakan, "kami memberikan pekerjaan ekstra padanya, dan sekarang kami akan mengetahui mengapa ia tak mendapatkan nilai A dalam semua hal."

Juga diterima dalam Mensa, siswa berusia 12 tahun, Lauren Gannon yang kebetulan tinggal di perumahan yang sama dengan Olivia. Skor IQ-nya 151, menempatkannya dalam kelompok dua persen orang-orang paling cerdas di dunia.

Rabu, 03 Oktober 2012

JUJUR, SIFAT PALING LANGKA


tujuan kita tidak jujur?
a.       Supaya orang lain memandang kita baik
b.      Supaya kita tidak mendapat masalah yang lebih panjang
c.       Supaya kita tidak mendapat sangsi dari kesalahan masa lalu
Mengapa kita tidak jujur
a.       Takut di marah
b.      Takut tidak di percayai lagi untuk memegang amanah
c.       Dan takut2x, lainnya


lalu apakah dengan tidak jujur akan membuat kita mulia?
mungkin kita naik pangkat dengan tidak jujur, dan memberikan laporan baik kepada atasan, namun bisa dipastikan ketidak jujuran itu akan membuahkan tidak berkahnya jabatan kita itu

mungkin kita bisa sukses dalam berbisnis dengan berbuat tidak jujur, namun bisnis kita tdak akan barokah, hasilnya pun tidak barokah...
uang hasil ketidak jujuran akan menjadi haram
dan Allah melarang kita memberi makan anak dan istri kita dengan uang haram

tidak jujur bukan hanya berarti korupsi uang, mencurangi laporan atau perbuatan besar lain
bahkan mencurangi absensi agar nampak kita seseorang disiplin termasuk perbuatan tidak jujur
masuk tapat waktu, pulang pun harus tepat waktu
sedemikian detilnya agama mengatur kita untuk jujur
agar berkah yang kita peroleh
bukan ketidak berkahan

seorang kawan saya pernah berkata
"kalau hidup jangan terlalu jujur mas"
saya sangat tidak sependapat
agama mengajarkan kita untuk jujur
tanpa kompromi
walaupun ancamannya adalah tidak mendapat pekerjaan karena tidak curang (menyogok)
atau apapun bentuknya
jujur harus dijunjung tinggi

ujian nasional telah lewat...banyak siswa yang tidak jujur terlihat
hanya karena takut tidak lulus
namun mereka lupa...
ada hal yang seharusnya mereka takuti lebih
yaitu amarah Allah
bila kita tidak jujur
apakah sukses dunia dapat mengganti azab di akhirat?
sungguh kita sebagai manusia memang bodoh

kita begitu khawatir pada dunia namun seolah lupa ada akhirat
kita hanya ingin sukses dunia tanpa perdulikan gagal di akhirat kelak
semoga tulisan ini dapat menjadi renungan

BERHENTI MENJADI GELAS


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air


itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh -NYA, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

SEJATINING GUSTI


Ketuhanan:

1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)

2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)

3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan)

4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan)

5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran. (Tuhan itu bisa mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan)

6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata. (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak)

7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan (pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)

8. Pangeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan)

9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake. (Tuhan itu Mahakuasa, takdir ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa membatalkan kehendak Tuhan)

10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)

11. Pangeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah tidur)

12. Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda)

13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran. (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan)

14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh sebab itu hormatilah ibumu)

15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)

16. Purwa madya wasana. (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian)

17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad. (Berubahnya keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam)

18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa membatalkan)

19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain)

20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa)

21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran. (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan)

22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala. (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara)

23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran. (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan.

24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran. (Keburukan dan kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan)

25. Manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran. (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat- sifat Tuhan)

26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran. (Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan)

27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran. (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)

28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanyalah bisa)

29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu merubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan)

30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan)

31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran. (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan)

32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran. (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan)

33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makhluk halus)

34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus)

35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa. (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu)

36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus)

37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah. (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia tidak punya permohonan kepada Tuhan agar makhluk halus menampakkan diri)

38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran. (Siapa yang berani merubah keadaan yang terjadi, bukanlah sembarang orang, namun sebagai “utusan” tuhan)

39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. (Siapa saja yang bersedia melaksanakan kebaikan dan juga mau “lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh anugrah tuhan)

40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur. (siapa yang belum paham, lalu menganggap sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup, yang demikian itu sesungguhnya belum memahami bila di dunia ini ada yang mengatur)

41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari Tuhan yang Mahakuasa)

42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui adanya Tuhan, termasuk hidup dalam kesempurnaan).

MELEPAS BAJU AGAMA


Karena tak yakin kalau ia memasuki Sorga yang benar, si manusia bertanya kepada penjaganya, “Apa benar ini Sorga untuk kaum muslim atau...?”

“Ini Sorga untuk semua”, jawab sang penjaga singkat.

“Lalu dimana ya Sorga untuk muslim...kristiani...untuk umat hindu ataupun buddha dan yang lainnya?”, tanya si manusia lagi.

“Kamu ini gimana sih ... Untuk semua ya untuk semua ...Ngerti maksud saya nggak sih?”, jawab penjaga galak itu.

si manusia tambah bingung. Ia mendekati penjaga yang lainnya, yang kelihatannya tidak segalak yang tadi. “Pak ... tolong sampaikan kepada penguasa disini untuk mengembalikan saja saya ke dunia lagi.”

“Lho ...kenapa ??”

“Ya ... saya mau melepas ‘baju agama’ saya dulu disana sebelum kesini lagi.”

Agama hanya di dunia ini... kalo kita lihat gambaran dalam kisah Bimo-Ruci...dimana ketika masuk ke samUdera kalbu, sang Hanuman tidak lagi mengikutinya... Hanuman disini perlambang dari dogma/aturan2 religi, makanya dalam lakon itu hanoman selalu memperingatkan dan banyak mengatur... Surga bagi saya adalah ketika jiwa2 kembali menyatu dengan sang Sumber Jiwa.... bukan yang banyak iming2 bidadari 7 dan berbagai kenikmatannya...[kasihan yg cewek nanti bingung menikmati bidadara hehehehe..... maaf ya...]
‎...seandainya boleh & tidak mengundang fitnah (karena menimbulkan fitnah adalah tidak bijak) : saya lebih memilih menyatakan diri berTUHAN dari pada berAgama... semua Agama adalah petunjuk, semua tujuan agama adalah sama, dan bersumber dari Yang SAMA/SATU menuju Sang TUHAN Yang Esa... seharusnya Agama apapun tidak menjadi "penjara" karena tujuan semua agama justru untuk "membebaskan"... setahu saya : Manusia2 yang tlah Tercerahkan tidak akan mengenal alergi terhadap simbol2/ajaran2 agama/kepercayaan2 apapunn...

Hanya di kehidupan ini yang mengenal Agama dan Identitas.......
Semoga semua mahluk bisa secerdas Si manusia ini..

HIDUP TANPA KEMATIAN


Hidup tanpa kematian,

seperti juga mati tanpa kehidupan.

Hidup bukan bagi jasad,

yang senantiasa dalam cengkraman kematian.

Jasad ini boleh hancur berkeping-keping, jadi abu,

kembali kepada unsur-unsur dasar pembentuknya,

namun hidup tetap melangsungkan kehidupan,

tiada mengenal kematian.

Hidup tak mungkin dipasung sebatas jasad rapuh ini.

Sebaliknya, mati tiada terhindari bagi jasad,

betapa sehat dan kekarpun ia tampaknya.

Tak ada sesuatupun yang lahir

yang tak berakhir di jurang kematian.

Kehidupanmu dan kehidupanku ini

boleh saja berakhir bersama kehancuran jasad,

namun hidup dan kehidupan sendiri

akan berlangsung terus sepanjang masa

tanpa aku, kamu, kita, dia, kalian dan mereka.

Selasa, 02 Oktober 2012

BELILAH BENIHNYA

Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko baru di pasar, dan terkejut, menemukan Tuhan di belakang toko.

“Engkau menjual apa di sini?” ia bertanya.

“Apa saja yang menjadi keinginan hatimu,” kata Tuhan.

Hampir tak berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu memutuskan minta hal-hal paling baik, yang mungkin diinginkan seorang anak manusia.

“Aku minta ketenteraman hati dan cinta dan bahagia dan bijaksana dan bebas dari sakit.” katanya, kemudian ditambahkan lagi, “Tidak hanya untuk saya. Untuk semua orang di dunia.”

Tuhan tersenyum. “Kukira, engkau menafsirkan Aku salah Nak...” kata-Nya. “Kami tidak menjual buah disini. Hanya bibit.”

Kita punya bibit, bermacam macam bibit, dan bibit itu akan tumbuh, bisa di ladang yang tandus, bisa di batu keras, bisa pula di lahan yang subur, Supaya kita bisa menuai buah yang baik, sebaiknya mari kita tanam bibit yang baik , dari dalam jiwa dan batin kita, dan mari kita tanam dim lahan yang bagus dalam jiwa dan batin kita pula, dan kita pula harus merawat, menyemai hingga bibit itu tumbuh dan berbuah. Barang siapa menanam , akan menuai. Memang tkadang manusia hanya ingin yg serba instant , mereka lupa jika kita wajib menanam ,memelihara juga memupuk dg penuh kesabaran u mendapatkan buah .

JEMBATAN MAAF


Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerja sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.

Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

"Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ..ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami.

Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang."
Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian.

Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya.

Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
"Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya.

Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan."

CINTA VS BENCI


Siapa sih yang tak ingin diperhatikan?
Siapa sih yang tak ingin dimengerti?
Siapa sih yang tak ingin disayangi?
Siapa sih yang tak ingin dicintai?

Perhatian,
pengertian,
kasih sayang,
cinta.

Kesemuanya itu sudah ada di dalam diri manusia,
kenapa tidak dipakai?
Kenapa tidak dibagi-bagikan?

Mendengar empat buah kata-kata itu,
apa yang Anda bisa rasakan?
Mendengarnya saja,
sudah menimbulkan kelegaan hati.
Apalagi melakukannya.

Kenapa di kesesakan bumi ini,
kalian menggantikannya dengan kata-kata ini?
Acuh tak acuh,
cuek,
emang gua pikirin,
benci,
iri hati,
dendam,
dengki,
sirik,
cemburu buta,
amarah,
dan lain sebagainya.

Mendengar ke 10 kata-kata itu,
apa yang Anda bisa rasakan?
Mendengarnya saja,
sudah menimbulkan rasa gak enak,
apalagi melakukannya.

Ingat...ingat...
manusia adalah makhluk "cinta"
Kalian gak bisa hidup,
tanpa cinta dari orangtua kalian.

Selama di dalam kandungan Ibu,
sampai Anda dilahirkan'
setelah itu dirawat,
dengan kasih sayang....

coba bandingkan
dengan calon bayi,
atau paska bayi
yang "dibuang"
Apakah mereka bisa hidup
sampai sekarang,
seperti kalian?

Sepantasnya manusia yang dirawat dengan
cinta kedua orang tua itu,
pasti tahu apa artinya
hidup dalam suasana
cinta,
sayang,
pengertian,
perhatian.

Kecuali dalam dirinya,
masih ada masalah kebencian,
yang tidak terselesaikan.