Pages

Selasa, 02 Oktober 2012

ANAK ADALAH UJIAN


Anak adalah suatu anugerah dari Allah SWT. yang tidak ternilai, tetapi apakah sempat terpikir oleh kita semua bahwa anugerah tersebut dapat menjadi suatu bencana bagi kita? Hal itu bisa saja dan pasti akan terjadi apabila kita sebagai orang tuanya tidak dapat menempatkan anugerah tersebut dengan sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, marilah kita sama-sama merenungkan hal berikut ini.
Allah mengingatkan kita dengan firmannya yang berbunyi sebagai berikut :


Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
QS. Al-Anfal (8) : 28



Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
QS. At-Taghabun (64) : 15
Dari kutipan ayat diatas kita dapat menyimpulkan bahwa anak yang dikaruniakan atau lebih tepatnya dititipkan kepada seorang orang tua adalah merupakan suatu cobaan ataupun suatu ujian bagi mereka (orang tua). Allah SWT. menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang lulus atau dapat melalui ujian tersebut dengan baik. Dan juga sebaliknya apabila mereka tidak lulus ataupun gagal dalam menyelesaikan ujian tersebut, maka Allah SWT. pun akan meminta pertanggung jawaban mereka atas kegagalan dalam menempuh ujian yang diberikan-Nya.
Seorang anak dapat diibaratkan bagaikan lembaran kertas yang putih, apabila si penulis menuliskan tulisan yang baik dan indah serta ia pun berhati-hati dalam menuliskan kata-kata dan ia pun tidak lupa untuk menjaga kerapihan tulisannya tersebut, maka setiap orang yang melihatnya akan merasa senang, simpatik dan senantiasa terarik untuk membaca tulisan itu lebih lanjut. Sebaliknya apabila kertas putih tersebut ditulis dengan tulisan yang tidak baik serta ditulis secara sembarangan dan terlebih lagi apabila si penulis tidak berhati-hati dalam menulis sehingga kertas yang putih itu menjadi lusuh dan kusam dengan noda tinta yang tertumpah dimana-mana, maka orang pun merasa enggan untuk melihat karena hilangnya rasa simpatik terhadap penampilannya, apalagi untuk membaca tulisan yang tertulis didalamnya. Dapat dipastikan bahwa yang pertama kali akan dinilai orang lain adalah si penulis kertas tersebut, yaitu orang tuanya.
Bagaikan ladang yang kosong, bibit yang ditanam adalah hasil yang akan dituai. Tidaklah mungkin apabila kita menanam bibit padi yang akan menghasilkan kacang ataupun jagung. Tentunya kita akan menuai hasil berupa padi, tetapi keunggulan padi tersebut belum dapat kita pastikan tanpa penanganan yang baik terhadap proses pematangan bibit padi tersebut selama ditanam. Maka dari itu pilih dan tanamkanlah bibit yang benar-benar baik sehingga hasil yang akan kita tuai adalah padi yang benar-benar berisi dan teruji keunggulannya.
Di dalam Al-Quran pun dijelaskan bagaimana cara untuk mendidik anak agar menjadi seorang anak yang saleh dan sesuai dengan syari’at Islam.



Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
QS. Luqman (31) : 13
Dari ayat diatas, dapat dilihat bahwa hal yang pertama kali diajarkan Luqman kepada anaknya adalah tentang ke”tauhid”an Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa menduakan Allah SWT. (syirik) adalah suatu dosa yang teramat besar. Maka tanamkanlah suatu pelajaran (bibit) kepada si anak tentang ke-esa an Allah SWT. dimana pelajaran itu akan membuatnya percaya dan yakin bahwa hanya Allah yang patut disembah. Apabila telah ditanamkan suatu iman yang kuat tentang Allah SWT. dan ketentuan-Nya, maka Insya Allah anak yang telah dibekali tersebut akan menjadi anak yang saleh dan berguna bagi orang tua serta agamanya yaitu Islam.
Dengan demikian kertas putih itu akan selalu terlihat indah dan menarik sehingga mengundang simpatik setiap orang yang melihatnya. Untuk lembaran-lembaran berikutnya adalah tulisan yang berisikan tentang Islam dan Ikhsan. Apabila bab demi bab telah tertulis dengan indah dan rapih, maka suatu nilai kelulusan yang tinggi akan diperoleh oleh si penulis (orang tua). Maka dapat dipastikan bahwa orang tua tersebut telah berhasil melalui cobaan dan ujian dari Allah SWT. yang senantiasa menitipkan dan mengkaruniakan anak untuk dijadikan khalifah yang sangat bernilai di bumi ini.





Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
QS. al-Furqan (25) : 74
catatan : Kita selaku orang tua dari anak kita, namun jangan lupa bahwa kita juga merupakan anak dari orang tua kita. jadi hasil ujian dari orang tua kita pun ditentukan oleh perilaku kita, maka dari itu muluskanlah jalan mereka dengan melakukan yang terbaik untuk hidup di jalan Allah…

0 komentar:

Poskan Komentar